Home / News / Deklarasi ITUS Sekolah Berbasis Agama, Budaya Kearifan Lokal Dan IT

Deklarasi ITUS Sekolah Berbasis Agama, Budaya Kearifan Lokal Dan IT

Kearifan
Foto : Ketua Yayasan bersama beberapa unsur pimpinan dalam rangka Deklarasi Sekolah Berbasis Agama, Budaya Kearifan Lokal & IT/dok.ITUS

ITUS Juara – Selain jargon Sekolahnya Para Juara, SMP-SMA ITUS Kuningan kini memiliki konsep Sekolah Berbasis Agama, Budaya Kearifan Lokal dan IT. Deklarasi ini bertepatan dengan Milad ITUS yang ke-15.

Ketua Yayasan ITUS H. Dudy Pamuji SE. mengatakan, rencana pendeklarasian ITUS sebagai sekolah yang berbasis Agama, Budaya Kearifan Lokal dan IT sebenarnya sudah lama. Namun, karena sarana prasarana untuk menunjang ketiga aspek tersebut ada yang belum lengkap, sehingga menunggu untuk semuanya lengkap terlebih dahulu.

“Kalau sekarang Insya Allah sudah lengkap semua. Baik itu yang menunjang kegiatan Keagamaan, Budaya Kearifan Lokal dan IT”, kata H. Dudy

Dijelaskan H. Dudy, pendeklarasian tersebut bukan tanpa sebab. Ada nilai historisnya sehingga ITUS berani mendeklarasikan sekolah berbasis Agama, Budaya Kearifan Lokal dan IT. Untuk agama kata H. Dudy, SMP dan SMA ITUS merupakan sekolah Islam Terpadu. Sehingga pembelajaran keagamaan bagi siswa pun lebih banyak dibanding sekolah umum. Apalagi ITUS itu sekolah dengan sistem full day school dan boarding school dengan 5 hari sekolah dalam satu minggu.

“Siswa ITUS juga digenjot dalam hal tahsin dan tahfidz. Kita sudah banyak mendapatkan prestasi dalam bidang keagamaan terutama tahfidznya. Terus di ITUS juga ada program bagi siswa untuk berbahasa arab selama sehari ketika hari aktif sekolah, ditambah dengan ekstrakurikuler siswa berupa kesenian islami seperti marawis dan nasyid”, ujarnya.

Untuk budaya, lanjut H. Dudy, lebih diarahkan kepada budaya kearifan lokal. ITUS berdomisili di kuningan yang notabenenya adalah memiliki budaya sunda. Maka, ITUS memiliki kewajiban untuk melestarikan budaya sunda tersebut. Apalagi siswa ITUS sudah membuat Film Sintren Dukuh Badag dan Totalitas Dadang Sudarsa yang mengangkat kearifan lokal di level nasional dan internasional. Bahkan film tersebut meraih juara pertama.

“Meskipun siswa ITUS 80 persennya dari luar kuningan bahkan banyak dari luar pulau jawa, tapi ITUS memperkenalkan budaya sunda kepada siswanya. Kita memiliki alat kesenian sunda seperti angklung, calung, gamelan. Kita ajarkan kepada siswa kesenian sunda. Kita juga ada program hari berbahasa sunda dimana semua warga ITUS wajib berbicara bahasa sunda selama sehari dalam satu minggu dan memakai pakaian adat sunda”, tuturnya.

Yang terakhir yaitu IT. Beberapa tahun yang lalu, siswa ITUS pernah menjadi juara 2 tingkat nasional olimpiade komputer. Dari sana, pihaknya menyadari bahwa potensi siswa dalam bidang IT sangat besar, meskipun ITUS bukan sekolah kejuruan.

ITUS terus mengembangkan pembelajaran dengan menggunakan IT salah satunya E-learning. Bukan hanya E-learning, penerimaan siswa baru pun sudah sistem online. ITUS sendiri memiliki ekskul sinematografi dan videografi yang ditunjang dengan peralatan milik sendiri seperti kamera Drone.

Bahkan, kedepannya orang tua siswa yang dari luar daerah kuningan, tidak perlu datang kesekolah untuk mengetahui nilai ujian anaknya. Cukup membuka website ITUS, orang tua siswa bisa mengetahui hasil nilai ujian dan kegiatan anaknya baik akademik maupun non akademik selama disekolah secara online.

“Kita sudah sistem online sekarang. Pembuatan aplikasi ITUS pun kini lagi dibuat oleh tim IT kita. Baik pembelajaran maupun pemberian tugas kepada siswa sudah via internet. Dilingkungan ITUS baik SMP, SMA dan Asrama sudah dilengkapi wifi area dengan kapasitas bandwidth yang memadai dan tiap kelas sudah dilengkap kamera CCTV, infokus serta sistem absensi sudah menggunakan fingerprint”, ucapnya.

Dijelaskan H. Dudy, filosofi sekolah berbasis Agama, Budaya Kearifan Lokal dan IT, terilhami dari teori potensi diri manusia yaitu Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ). Untuk IT nya berkaitan dengan IQ, Budaya Kearifan Lokal dengan EQ dan Keagamaan dengan SQ,

“IQ, EQ, dan SQ itu merupakan keseimbangan. Begitu pula dengan Agama, Budaya Kearifan Lokal dan IT”, terangnya.

Tahun ajaran baru 2016-2017, program sekolah berbasis Agama, Budaya Kearifan Lokal dan IT akan diterapkan secara menyeluruh baik itu siswa, guru dan karyawan. Untuk sekarang sampai tahun ajaran baru masih tahap penyesuaian.

Penulis : dhe (Kuninganterkini.com)

Editor : Manx & DMS

About admin

Check Also

H umar & Hj Entin

Tasyakur Ulang Tahun Pernikahan Emas Pembina Utama Yayasan Umar Sjarifuddin

ITUS Juara – 50 tahun pernikahan Drs. H. Umar Sjarifuddin dan Ibu Hj. Entin suhartini ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *