ITUS

SMP - SMA
Islam Terpadu Umar Sjarifuddin
Jl. Pajajaran No. 1A Peusing Jalaksana Kuningan- Jawa Barat
Tlp./Fax. (0232) 8617661

Sekolah Para Juara

Home berita APAKAH INI RAMADHAN TERAKHIR KITA?
Apakah Ini Ramadhan Terakhir Kita?

Ramadan adalah persembahan seorang hamba kepada Sang Khaliq. Ketika Sang Khaliq, dalam sebuah Hadits Qudsi, telah berseru: “Puasa itu untuk-Ku”, maka setiap hamba bergetar saat memasuki Ramadan. Getaran jiwa yang terus dijaga dan dipelihara selama bulan suci. Ke manakah getaran itu kini ketika Ramadan telah berakhir?

Banyak yang berdebat menjelang datang dan berakhirnya Ramadan: bilakah hilal telah terlihat? Namun jarang mereka memahami bahwa hilal juga bisa merupakan metafora: sudah siapkah jiwa kita yang penuh kegelapan tercerahkan oleh munculnya hilal di awal Ramadan cahaya untuk menyucikan diri. Maka, hari demi hari di bulan Ramadan, cahaya hilal perlahan semakin terang benderang hingga puncak purnama di pertengahan Ramadan.

Maka, tiba-tiba diri kita telah berada di pengujung Ramadan dan semuanya kembali gelap, persis sebelum hilal Ramadan muncul di atas ufuk. Lalu kita kembali berdebat: bilakah hilal Syawal akan terlihat? Seakan kita alpa bahwa hilal Syawal pun kembali menjadi metafora kehidupan kita. Adakah terlihat hilal Syawal di hati kita?

Mengapa pula kita bergembira Ramadan berlalu, padahal Nabi Muhammad selalu bersedih saat Ramadan berakhir?

Apakah kita bergembira karena selesai sudah segala susah payah kita berpuasa sebulan penuh? Atau apakah kita bergembira Ramadan berakhir karena kita bisa kembali menjadi manusia “normal” yang kembali menerjang apa yang Allah haramkan, dan berebut mencari serpihan tersisa dari apa yang Allah halalkan?

Ya Allah yaa robbii, oh inikah akhir sebuah Ramadan? Ketika kulihat senyum indah di wajah sanak saudara yang telah lama tak bersua. Kutengokkan ke kanan dan ke kiri, semua menyambut hari kemenangan. Semua memakai pakaian baru tanda mereka kembali ke fitrah mereka. Tapi mengapa tak kulihat cahaya hilal Syawal di wajah mereka. Tadi pagi sebelum berangkat salat id, aku bercermin, Allah Karim, tak kulihat pula tanda hilal Syawal di wajahku. Ampuni kami, yang bergembira Ramadan telah berakhir.

Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan :

كانوا يدعون الله ستة أشهر أن يبلغهم شهر رمضان، ثم يدعون الله ستة أشهر أن يتقبله منهم

“Para ulama berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka disampaikan kepada bulan Ramadan, kemudian mereka berdoa lagi selama enam bulan agar Allah mau menerima amalan ibadah mereka tersebut (selama di bulan Ramadan).”

Boleh jadi mereka yang bergembira di bulan Ramadan penuh harap agar amalan ibadah diterima Allah. Bukankah dalam Hadits Qudsi yang lain, Allah juga telah mendeklarasikan “Aku ini sebagaimana persangkaan hamba-Ku saja”. Bergembira di Hari Lebaran adalah tanda kita optimistis dan berbaik sangka bahwa Allah akan menerima ibadah kita.

Tak ada yang salah dengan bergembira saat Ramadan berakhir, bukan?

Tapi tak ada salahnya pula untuk cemas: jangan-jangan ini Ramadan terakhir bagi kita, orang tua, pasangan, anak, dan saudara bahkan teman-teman kita, Masihkah kita bertemu kembali dengan Ramadan tahun depan?

Bukankah para Guru kita telah mengutip sejumlah riwayat bahwa inilah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Bahkan ada pula yang mengingatkan kita bahwa inilah bulan ketika bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kesturi. Bahkan begitu dahsyatnya bulan suci ini ketika Allah setiap malamnya membebaskan ratusan ribu orang yang seharusnya masuk neraka.

Selepas Ramadan, bagaimana dengan hati, mata, dan telinga kita? Apakah semuanya kembali menjadi lepas-bebas?

Ramadan berlalu, apakah kita kembali menjadi binatang ternak yang tersesat?

Semua nafsu hewani yang telah kita ikat dan belenggu di bulan suci Ramadan, apakah akan kita lepas kembali?

Jika iya, untuk apa kegembiraan di Hari Raya ini? Tidakkah sepatutnya kita bersedih?

Dosa kita kepada Allah semoga diampuni dalam bulan Ramadan, tetapi dosa kita kepada sesama manusia belum Allah hapuskan selama kita belum saling memaafkan. Inilah gambaran kaitan antara hablum minallah dan hablum minan nas.

Mungkin ini Ramadan terakhir kita. Mungkin ini Lebaran terakhir kita. Mungkin pula ini permintaan maaf terakhir kita.

Penulis : Emon Sumarna, S.Pd.I ( GURU PAI SMP ITUS KUNINGAN )